Sunday, 17 May 2009

Let’s we talk about the Sky...
It was a great things to talk...








Kenapa dengan langit? Ga ada,,, gw lagi pengen aja ngobrolin langit aja. Habisn
ya kita udah terlalu membumi dalam obrolan kita sehari2, ya lingkungan hiduplah, ya pemanasan globallah, ampe2 politik, ekonomi, sosial, budaya, yg notabene semuanya ada di atas tanah tempat kita berpijak, sementara yg nun jauh sang biru di sana ga pernah kita sentuh (cie cie... bahasa gw kali ini bkin muntah orang2 yg ngebaca tulisan ini mulai dari paragraf awal... Hahahahak!!! Hueeekkkk!!!)

Secara ilmiah ya ga perlu di bahas lagi lah ya... udah terlalu banyak literatur yg ngebahas hal itu di dunia manusia (atau bahkan dunia hewan, tumbuhan, jin, ama dedemit juga ngobrolin langit juga ya,,, karena emang pemanasan global saat ini dirasakan ga hanya oleh manusia, bahkan beruang kutub juga ampe ngungsi... Bah... apalagi hubungan langit—ama pemanasan globall???). tapi emang gw juga ga mau bahas secara ilmiah, karena hardisk otak gw tempat gw nyimpen file2IPA, FISIKA, BIOLOGI, udah kena badsector dari 3 tahun lalu, gara2 ga pernah di cleanup ama di scan dari virus2 malas, dodol, ama bete-dengan-pelajaran-eksak. Jadilah kita jangan obrolin komposisi kimia awan, daur hujan, atau penipisan Ozon gara2 CFC ya... Bisa mati bediri gw... Hahahaha!!!

Cloud And Sky... 2 komponen utama langit... Awan yg berwarna putih, dan langit itu sendiri yg menjadi background dan selalu berwarna biru. Kenapa gw bilang selalu??? Karena kalo langit juga mendung atau kelabu, itu bukan warna dia... melainkan hanya kumpulan awan yg sebentar lagi akan turun dalam titik gemeritik hujan di sore hari (Damn jadi ingget lagu UTOPIA—BANJIR.. eh hujan maksudnya), hehehe... Bener kan? Kalo ga bener ya anggap aja itu Cuma ada dalam imajinasi gw aja dah...

Ya langit sejatinya berwarna biru... Sky always be beautiful... Everytime u see, everytime u hear, everytime u feel... Langit selalu indah... Ga perduli ketika ia cerah, kelabu, atau bahkan ketika gelap sekalipun. Langit menawarkan sebuah keindahan abadi (deuuuhhh... Jan.... gejala melankolis lo kambuh lagi dodol.... Heheheh,,, maaf pemirsa!!! Maaf2... berjuta2 maaf... Kembaliannya ambil aja, hehehe....)

Apa sih yg lo rasain waktu lo liat langit? Gw rasa semuanya akan menjawab beberapa hal yg sama... dan setipe tentunya Damai, tenang, santai, indah, sejuk, dll. banyakan orang rata2 kan menjawab hal2 itu ketika mereka ditanya melihat langit yg sedang cerah berwarna biru. Smentara kalo ketika langit kelabu, pasti mungkin jawabannya akan beda juga; sedih, ragu2, sedang ga enak hati, dll yg berkolerasi dengan warna kelabu, abu2, hitam, dll. (Jan.... jangan mulai masuk ranah ilmiah lagi ya....?)

Tapi emang ternyata ketenangan yg diberikan langit, berasal dari warna biru dan putih yg dikombinasikan dengan cantik tanpa tiang di sudut2 alam semesta ini... Bayangkan kalo langit warna biru tapi awannya warna merah... Pasti para desainer pakaian malah pada marah... “Idih ga gaul banget sih.... pake warna merah dicampur ama biru, sama2 warna yg mematikan satu sama lain” Atau ketika si langit berwarna biru dan awan berwarna itam... Beuh...belum malam udah pada gelap2an kita semuanya.. Hahaha, atau lebih parah lagi, langit jadi backgroundnya berwarna biru... trus awannya macem2... ada yg merah, hijau, kuning, ungu... Nah kalo ini kejadian... Bisa2 pelangi pada ngambek dan ga pernah muncul2 abis hujan... “Kan lo udah pada ngeliatin tuh awan warna-warni... ngapain gw mesti muncul lagi?” Protes si mejikuhibinu kalo emang kejadiannya kaya begitu... Tapi untungnya langit tetap biru, dan awan tetap putih, sampai kapanpun. Maka nikmat Tuhan kamu yg manakah yg kamu dustakan?* (nah di sini kok lo berubah jadi Ustadz Jan... padahal rukun islam ama rukun iman juga udah lupa kan...?)

Leatrice Eisman, seorang konsultan warna dan penulis buku More Alive With Color (jangan tanya ama gw, dia lahir di mana, tinggal dimana sekarang, no hp, alamat facebooknya, atau udah berapa kali salah make obat jerawat, ama pengen kena flu babi apa ga...) memberikan arti pada warna2 favorit, dan salah satunya biru... Katanya “kesetiaan, ketenangan, sensitif dan bisa diandalkan. Biru memiliki arti stabil karena itu adalah warna langit,"

Tuh kan, gw bilang juga apa... Bahkan konsultan warna aja setuju ama kata2 gw (atau polanya dibalik denk.... gwnya yg sepakat ama dia... heheheh), kalo langit memberikan ketenangan, dan kedamaian bagi orang2 yg melihatnya. Hahaha, luar biasa.... Langit bisa menjadi salah satu obat ketika hati sedang kacau2nya,,, pikiran sedang mumet2nya.. . Lihat aja ke atas... (Langit maksudnya, bukan genteng ya Ujang...), maka tampak di sana awan2 putih dan nuansa biru (Bah... Udah mulai lagu2 Vidi Aldiano lagi....) di atas...

Toh kali2 aja lo bisa mikir atau berkhayal...
“Jangan2 dari gumpalan awan ntar tiba2 ada bidadari turun dari langit, kaya cerita2 orang tua jaman dulu kala....” dan begitu nyampe di bawah dengan senyum manis dia nanya...

“Mas... tower BTS deket sini di mana ya...?”
Tanya tu bidadari
Sambil celingukan... ga jelas.... ni bidadari mabok kali ya

“Tuh di sana, sekitar 2 km lah dari sini, kenapa mbak?”
Tanya gw yg masih-juga-belum-abis-rasa-herannya


“Maaf mas... selendang saya tadi nyangkut di BTS itu... Hehhe, jadinya saya jatuh di mari” Katanya sambil senyum2 lagi

“O.......” mulut gw masih monyong, aneh bidadari jaman sekarang...

“O ya... mas... makasi ya... saya mau cari ojek dulu, ga bsa terbang kalo ga pake selendang”
Kata si bidadari,,,


“Tu mbak di sana... pangkalan ojeknya, ga jauh kok” gw masih ga ngeh juga udah 2 kali ditanyain... ama tu bidadari, ada2 aja langit jaman sekarang

“Ok mas... Eh tapi ngomong2... mas pinjem duit donk... dompet aku ketinggalan euy di atas,
sambl nunjuk salah satu gumpalan langit yg kayanya bakalan jadi sumber ujan deras sore ini”


Dalam hati...
Dasar,,,
cakep2 kere


“Ini uangnya... besok2 kalo maen2 ke sini, sekalian aja bawa carrier 80 L, jadi kalo jatuh ke bumi, kaga usah balik2 lagi ke sono”
Kata gw sambil ngelongos pergi...
Dasar... Langit jaman sekarang!!!

--imajinasi gw di kosan—
12Mei09 11:21 WIB

Thursday, 14 May 2009

Ikhlas... Ikhlas....


Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas....

Ini selalu jadi buah bibir orang2, selalu melantunkan ikhlas, ikhlas, dan ikhlas...

Semua orang selalu mensugesti keikhlasan kepada rekan2nya, sahabat, atau keluarga yang sedang dirundung musibah. Kehilangan sesuatu yg amat disayanginya, perginya seseorang yg dicintai, dll. Seolah-olah dengan ikhlas, seorang pria menjadi biasa saja, setelah ditinggalkan wanita yg dicintainya...?

Apa itu ikhlas, sama seperti seperti cinta. Ia bukan sikap, atau pemikiran (meski konsepnya selalu didengungkan). Ikhlas adalah rasa, feeling, akan sesuatu. Ikhlas berarti menerima tanpa membantah lagi, ikhlas berarti tetap melangkah dalam kerelaan, ikhlas berarti pasrah dalam usaha yang maksimal, karena ikhlas bukan sebuah kesimpulan yang didapat dari awal. Ikhlas adalah akumulasi...

Ya ikhlas adalah akumulasi... akumulasi dari kesemuanya. Stelah kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan, semua engkau lalui, ketika kesedihan, kegetiran, kegagalan, dan ketidakberterimaan keadaan menghampiri. Dan engkau sudah berharap semua terhenti, bahkan waktumu sendiri. Saat merasa bahwa kau tidak bisa berbuat apa2 lagi, saat kau menjadi tak berguna sama sekali, saat kau berpikir hanya kematian jawaban yang hakiki. Ikhlas akan muncul, mungkin di akhir dari semuanya, tapi sejatinya ikhlas adalah langkah baru menuju sesuatu; harapan yang jauh lebih baik... meski itu masih kemungkinan.

Ikhlaslah... setelah kau memberikan yang terbaik yang kau bisa
Ikhlaslah... setelah kau menyayangi setulus hati
Ikhlaslah... setelah apa yang kau lalui hingga detik ini

Ikhlaslah... Ikhlaslah... sudah seberapa sering aku tdak ikhlas...?
Ketika aku tahu ada yg lebih mengertiku daripada diriku sendiri...

Seberapa sering aku tidak ikhlas...
Ketika aku tahu ada yg menyayangi dan memperhatikanku lebih dari sosokku sendiri

Seberapa sering aku tidak ikhlas?
Ketika aku tahu ada yg selalu mendoakanku dlam setiap sholatnya

Seberapa sering aku tidak ikhlas?
Ketika aku tahu ada yg setiap saat berpikir tentang diriku

Atau mungkin juga sebaliknya...
Seberapa sering ku mengaku ikhlas...
Hanya karena aku mencoba mengertinya, namun tak pernah tepat terduga?

Seberapa sering ku mengaku ikhlas...
Hanya karena perhatian yg diberikan, minim balasan?

Seberapa sering ku mengaku ikhlas
Hanya karena rasa sayangku, tak pernah terjawab untuk satu?

Seberapa sering aku tidak ikhlas... untuk semuanya...
Hanya bertanya2 dan berharap2 balas datang...
Akkkhhhh...

Padahal ikhlas adalah jawaban semuanya...
Jawaban semua pertanyaan selama ini... Ikhlas menerima perngertian orang lain thd dirimu, meski egomu melawan kuat. Ikhlas menerima rasa orang lain, meski hatimu jelas tak bisa membalas. Ikhlas menyayangi dan memberi, meski dalam jiwamu masih penuh tanda tanya, apakah ini berguna?

Karena jelas, keikhlasan bukanlah hak manusia untuk membalasnya. Ia sepenuhnya adalah hak prerogatif yang Maha Ikhlas untuk membalasnya. Dan aku hanya ingin hanya DIA yang membalas segalanya... segalanya...

"Jan,,, yang ikhlas ya Jan..."

--kamar kosan--
4 Mei 09
18:50 WIB

Saturday, 4 April 2009

Surat untuk dia...

Kau bahkan tak mengetahuinya
Kala ku membuka mataku di pagi hari, dan setelah kutunaikan kewajibanku kepadaNYa. Orang pertama yg kupikirkan, orang pertama yg kubayangkan bagaimana memulai harinya, dan orang pertama yg ingin kutanyakan mimpinya semalam...
Adalah dirimu???

Kau bahkan tak mengetahuinya
Ketika kakiku melangkah memulai perjalanan mengejar mimpi. Orang yg pertama ingin kuketahui akan melakukan apa hari ini, apa menu sarapannya, dan apakah sakitnya semalam sudah reda atau masih sama saja...
Adalah dirimu???

Kau pun bahkan tak mengetahuinya
Saat jari jemariku memencet tombol2 ponselku di sini untuk memanggil temanku. Orang yg selalu ingin kuhubungi, Orang yg selalu ingin kukirimkan sms singkat "sedang apa?", dan Orang yg selalu kuharapkan namany tertera dalam "incoming calls" setiap saat...
Adalah dirimu???

Kau bahkan tak mengetahuinya
Saat mataku terpaku pada layar 14" di depanku memantau e-mail dan website kesayanganku. Orang yg selalu kuperhatikan fotonya, orang yg selalu kubaca komentar2nya dalam situs2 yg mempertemukan kita, Orang yg selalu ingin kuharapkan On-Line saat diriku berada di sini saat ini...
Adalah dirimu???

Kau pun bahkan tak mengetahuinya
Kala kaki2ku lemah di ujung senja menuju peraduanku, Orang yg kuharapkan membantu langkahku, Orang yg kuimpikan menyambutku di depan pintu rumahku, Orang yg kubayangkan tersenyum di ujung jingga sang langit sore...
Adalah dirimu???

Kau pun bahkan tak mengetahuinya
Saat gelap memisahkan kita di antara sang bulan, Orang yg kunantikan kehadirannya saat makan malamku, Orang yg selalu selalu kutunggu ceritanya di ujung lelah malamnya, Orang yg selalu mengawang sebelum aku mengakhiri hari ini...
Adalah dirimu???

Kau pun bahkan lebih tidak mengetahuinya
Bahkan di sela-sela diriku mengingatNya pun... Bayangmu masih terselip di sana-sini, seolah kau adalah malaikat yg slalu terbang di sisi jiwaku, mewakili diriNya... menemaniku...

Dan kau tetap tidak mengetahuinya
Kala mataku akan terpejam, dan kubayangkan besok adalah hari terakhir dalam hidupku... Orang yg kuinginkan menemani hari esokku,,,
Adalah dirimu???

Hingga kau pun tak pernah mengetahuinya
Bahwa... satu2nya orang yg paling takut berjalan sendirian, tanpamu...
Adalah diriku???


--Kosan, 3 April 09--
15:38
Damn... kenapa sok romantis banget akhirnya...